Sebelum menjadi bentuk tari Pakarena yang sekarang, dahulu disebut dengan nama sere jaga
yang berfungsi sebagai bagian upacara ritual sebelum menanam padi dan
usai menanam padi. Para penari memegang seikat padi pilihan (padi bibit
yang telah dipilih melalui upacara) yang dianggap dewi padi. Kemudian
tari sere jaga berkembang menjadi bagian upacara ritual yang dilakukan semalam suntuk. Upacara tersebut antara lain: ammata-mata jene, ammata-mata benteng,
dan lain-lain. Taripun mengalami perkembangan dalam bentuk penyajian
dan piranti. Padi yang dipegang sekarang diganti dengan kipas.
Pertunjukan Tari Pakarena
Secara
garis besar pelaku pertunjukan tari Pakarena dapat dibagi menjadi dua,
yakni penari dengan pemusik. Penari memperagakan gerakan yang sangat
lembut dan halus yang dianggap sebagai cerminan wanita Sulawesi Selatan.
Tarian ini dibagi ke dalam 12 babak, akan tetapi sangat sulit untuk
mengidentifikasi pembabakan tersebut karena gerakannya tetap lembut dan
monoton. Adapun beberapa gerakan yang menjadi penanda dalam tarian
tersebut seperti gerakan pada posisi duduk adalah sebagai pertanda awal
dan akhir dari tarian tersebut, dan ada gerakan berputar mengikuti arah
jarum jam yang diibaratkan seperti siklus kehidupan manusia. Sementara
gerakan naik turun, tak ubahnya cermin irama kehidupan. Aturan mainnya,
seorang penari Pakarena tidak diperkenankan membuka matanya terlalu
lebar. Demikian pula dengan gerakan kaki, tidak boleh diangkat terlalu
tinggi.
Tiap jenis tari Pakarena
mempunyai pola iringan yang harus diketahui oleh penari dan pemusik.
Penyusunan iringan ditentukan secara kreatif oleh seorang sutradara yang
disebut Anrong Guru. Dalam hal gerak, penari berpatokan pada penari terdepan sebelah kanan Anrong Guru yang disebut Pauluang. Selain itu, judul dan jenis tari Pakarena sangat ditentukan oleh nyanyian dalam tari tersebut. Nyanyian tersebut disebut Lelle dan Dondo. Misalnya Lelle dan Dondo Samboritta hanya akan dibawakan pada tari Pakarena Samboritta. Selain itu ada juga Kelong atau nyanyian yang disajikan berdasarkan pilihan anrong guru.
Jika
melihat aksi dari pemusik tari Pakarena maka akan terlihat suatu sajian
yang sangat kontradiktif dengan tari. Para pemusik akan bermain dengan
sangat kencang dan keras. Hal tersebut sangat nampak pada pemain gendang
yang menghentakkan alat musik membranofon dengan sangat energik dan
bersemangat secara sepintas terlihat tidak ada kaitannya dengan tarian.
Ini merupakan cerminan dari kaum pria masyarakat Sulawesi Selatan yang
keras dan tegas. Pemain gendang adalah pemimpin dari kelompok musik ini
karena ia yang menentukan irama dan tempo dari jalannya suatu lagu. Ada
dua jenis pukulan yang dikenal dalam tabuhan Gendang. Pertama, adalah
pukulan Gundrung, yaitu pukulan Gendang dengan menggunakan stik atau bambu yang terbuat dari tanduk kerbau. Kedua adalah pukulan tumbu
yang dipukul hanya dengan tangan. Selain instrumen gendang, adapun
beberapa instrumen lainnya pada kelompok musik ini adalah gong, katto-katto, dan puik-puik. Khusus untuk pemain puik-puik (sejenis alat musik tiup menyerupai preret), harus memiliki keahlian meniup secara terus menerus (circular breathing) atau disebut juga dengan a’mai lalang.http://forum.isi-dps.ac.id
0 komentar:
Posting Komentar