Hebatnya lagi, penari yang meraih juara tersebut, rata-rata baru berusia 9 tahun atau duduk kelas III sekolah dasar.
"Prestasi ini sangat membanggakan dan ini diraih karena latihan keras yang rutin dan kerja keras, kita mampu meraih juara. Prestasi ini tidak terlepas dari dukungan semua pihak," ujar Pelatih Tari Diklat Limpapeh, Jingga, Minggu (6/10) di TMII.
Menurut Jingga, sanggar tarinya berhasil kalahkan 35 sanggar tari dan ratusan penari lainnya.
"Lombanya diikuti anak-anak umur 7-13 tahun," ujar Jingga.
Prestasi dua nasional melengkapi koleksi prestasi Sanggar Limpapeh. "Tidak saja di ruang lingkup TMII, tapi sudah Nasional bahkan internasional," ujarnya.
Penari di Sanggar Limpapeh bukan keturunan Minang semua, tapi ada yang anak Betawi, Sunda dan Jawa. Anak-anak tersebut sangat menyukai tarian Minangkabau. "Sanggar Limpapeh termasuk paling ramai dibanding sanggar lain. Latihan setiap Rabu dan Minggu," jelas Jingga.
Bahkan lenggang-lenggok penari cilik ini sering membuat decak kagum wisatawan asing yang sering menyaksikan atraksi para penari latihan di Anjungan Sumbar. Mereka sangat tertarik dengan budaya Minang.
Untuk memacu prestasi, tahun 2014 rencananya akan dimasukkan anggaran untuk Diklat Limpapeh. "Kita akan coba memajukan prestasi lebih baik," lanjutnya.
Diakui Mulyadi, adanya penari membawakan tarian Minangkabau, Anjungan Sumbar jadi tempat yang paling ramai dikunjungi di TMII. "Setiap tahun tidak kurang dari 200 ribu datang. Untuk TMII sendiri setiap tahun ada 3 juta wisatawan baik asing maupun lokal," ujar Mulyadi.( aat/ )
0 komentar:
Posting Komentar